ARSIP : Deng Xiaoping, Si Jarum Dalam Kapas

by | Apr 25, 2024 | Arsip Berita Lama, Berita Internasional

Perjalanan karier politik reformis ekonomi Tiongkok, Deng Xiaoping muncul dalam rubrik biografi Majalah MATRA Edisi No. 86 September 1993. Artikel Deng Xiaoping, Si Jarum Dalam Kapas yang akan ada baca di bawah akan menunjukkan Deng Xiaoping yang berulang kali ditendang oleh lawan-lawan politiknya namun dapat kembali masuk ke panggung politik Tiongkok dan menjadi satu pionir penggerak reformasi ekonomi Tiongkok yang sempat terpuruk di bawah kepemimpinan Mao Zedong.

Pemimpin terbesar abad ini berkali-kali tersingkir dari panggung politik Cina dan berjaya lagi. badannya yang kontet menyembunyikan kharismanya. Kematiannya bakal mengguncang Cina bahkan dunia.

Deng Xiaoping, seperti juga para pemimpin Cina yang lain riwayat hidup dan kehidupan pribadinya penuh teka-teki. Kehidupan politik dan karier Deng berputar bagaikan roda sebentar di atas sebentar di bawah. Bahkan di penghujung umurnya pun, tahun ini usianya 89 tahun, posisinya masih teka-teki.

Terakhir bulan Juli lalu ia masih terlihat menyambut langsung PM Malaysia, Mahathir Mohamad. Spekulasi berita tentang kesehatannya pun buyar. Namun perdebatan mengenai suksesi di Cina pasca Deng lalu semakin menyubur. Sementara kolega sekaligus seterunya Mao Zedong telah menunggunya di akhirat.

Awal Kehidupan dan Keluarga Deng

Sejarah Deng adalah sejarah rakyat. Ia anak orang pejabat rendahan di Distrik Guangan Provinsi Sichuan, sekitar 60 mil dari Chongqing. Sebagai seorang pendukung Mao, ia telah cukup banyak menderita lantaran kata-katanya yang tajam. Sichuan terkenal dengan makanan pedasnya. Orang provinsi itu dikenal pula dengan kata-kata dan ucapannya yang sering membuat telinga orang menjadi merah.

Deng (kanan) dan rekannya Hu Lun, ketika masih menjadi pelajar di Prancis. Dalam usia yang masih muda, ia meninggalkan negerinya. Dan bergabung dengan kaum komunis. (DOK. MATRA, 1993)

Deng punya seorang adik laki-laki namanya Deng Ken. Orang ini pernah menjabat Walikota Wuhan, yang pensiun pada 1984. Ada lagi adik perempuannya yang pada 1984 masih bekerja sebagai periset pada sebuah institut keilmuan di Beijing. Sang ibu meninggal ketika mereka masih muda sehingga mereka dibesarkan oleh seorang ibu tiri.

Deng meninggalkan rumah dan keluarga pada usia yang muda sekali. Ia masuk sekolah lanjutan pertama dan kemudian mengambil kursus-kursus untuk mempersiapkan anak-anak muda pergi ke Prancis, yang diorganisasikan sebuah program setengah kerja setengah belajar pada usia 16 tahun. Ia bergabung dengan 92 anak muda lain yang berlayar menuju Prancis.

Di Paris, Deng mula-mula bekerja di pabrik Renault dan kemudian juru api lokomotif. Kantungnya kempis sehingga ia tak mampu membeli makanan. “Biasanya aku sudah puas kalau bisa membeli sebuah croissant dan segelas susu,” ceritanya satu kali pada Jendral Yang Shangkun. Ia percaya badannya yang kontet (tingginya hanya 5 kaki) disebabkan oleh dietnya yang kelewatan di masa remaja.

Saat ini anda sedang membaca artikel Deng Xiaoping: Si Jarum Dalam Kapas

Awal Keterlibatan dalam Komunisme

Deng mengaku pada Edgar Snow (wartawan Amerika yang bersimpati terhadap perjuangan kaum komunis Cina pada 1936). Masa mudanya sebagian besar dihabiskan di luar negeri untuk bekerja bukan belajar. Ia belajar tentang Marxisme dari rekan-rekan buruh Prancis, sebelum bergabung dengan Partai Komunis Cina (PKC) Cabang Eropa yang dibentuk oleh Zhou Enlai  dan para pemuda Cina lainnya. Ia menempuh jalan yang sama seperti tokoh-tokoh komunis lain di Asia misalnya Ho Chi Minh dari Vietnam. Deng berteman erat dengan Zhou dan aktif dalam Liga Sosialis Muda yang dibentuk oleh Zhou. Ia turun ke jalan membagikan pamflet dan memutar mesin stensil tangan untuk mencetaknya.

Deng kembali ke Cina pada 1926 via Mongolia dan Ningxia, setelah beberapa bulan berdiam di Moskow. Di sana ia belajar di Universitas Sun Yat Sen, perguruan tinggi Rusia untuk mencetak agen-agen komunis yang akan beroperasi di Asia. Salah satu kawan sekelasnya adalah Chiang Chingkuo, putra Chiang Kaishek. Setibanya di Cina ia bekerja membantu warlord Feng Yuxiang, yang juga dikenal sebagai “Jenderal Kristen”.  Jenderal itu sangat dekat kepada kaum komunis dan membentuk pusat pendidikan bagi tentara Feng.

Saat ini anda sedang membaca artikel Deng Xiaoping: Si Jarum Dalam Kapas

Pada 1927, setelah komunis digebuk oleh Chiang Kaishek di Shanghai. Deng dikirim ke Wuhan, dan kemudian ditugaskan untuk bekerja di bawah tanah di Shanghai. Dalam gerakan gelap itu ia pernah menduduki jabatan Jenderal Komite Sentral.  Tugas pertama yang cukup besar baginya datang pada 1929. Pada waktu itu ia diutus ke bagian selatan Guangxi. Di sana ia diberi pekerjaan sebagai organisator kegiatan pasukan gerilya yang mendapat nama tentara ke-7 dan ke-8. Ia menjabat sebagai komisaris politik.

Karier Deng bersama tentara ke-7 segera terpengaruh oleh persaingan untuk merebut kekuasaan politik di dalam partai. Ia digeser dari kedudukannya sebagai sekretaris komite, lalu digantikan orang bernama Deng Gang. Banyak yang mengira bahwa nama itu nama alias Deng Sendiri . Nama asli Deng Xiaoping adalah Deng Bin. Sedangkan ketika berada di Paris, Ia dikenal sebagai Deng Xixian.

Mulai Berkarier

Ketika kembali ke Daerah Soviet Pusat pada 1931 dan menjabat Sekretaris Partai Distrik Ruijing. Deng menemukan kekalutan. Distrik itu sedang berada dalam keadaan perang, lantaran adanya kampanye anti golongan reaksioner. Deng segera menghentikan gerakannya.  Ia memerintahkan agar semua orang yang dituduh melakukan penghianatan diperiksa kembali. Hampir semuanya direhabilitasi. Yang dilakukan oleh Deng didukung juga oleh Zhou Enlai. Deng dikenal sebagai seorang troubleshooter

Pemuda Deng (1950) yang giat berjuang. Sejak muda ia memang aktif dalam gerakan politik. Apalagi setelah ia kembali ke Cina, dari agen sampai redaktur majalah (DOK. MATRA, 1993)

Deng tidak terlalu lama memegang jabatan di Distrik Ruijin. Pada 7 November 1931, pembentukan pemerintah Cina Soviet Interim diumumkan, dan Ruijin menjadi ibukota merah. Beberapa bulan kemudian, (Deng tak ingat persisnya) dia dipindahkan dari Ruijin ke kedudukan sekretaris yang kurang penting di Huichang -kemudian ditambah dengan wilayah Xunwu dan Anyuan. Ketiga daerah ini baru sebagian saja dibebaskan dan tentara merah tidak pernah mendapatkan kursi di sana.

Sebagai pendukung Mao, Deng Xiaoping terkenal pandai mengemukakan pendapat. Tapi Bo Gu dan fraksi Anti-Maonya mulai mengambil alih wilayah pusat Soviet dan berkampanye untuk menghilangkan sisa-sisa kekuasaan Mao. Demikianlah pada musim salju 1932-1933, Deng diintai bahaya lagi. 

Dalam penuturan Deng (1984), ia memegang jabatan di tiga distrik itu selama setengah tahun. Meski diingatkan oleh teman-temannya betapa pentingnya penelitian dan penulisan sejarah yang akurat. Deng menolak menulis memoarnya. Ia juga menolak proposal untuk biografi resmi. Barangkali karena kebenciannya pada pemujaan pribadi yang tumbuh di sekitar Mao.

Masa Perjalanan Panjang

Pada 15 April, kampanye melawan Deng sebagai pengikut Mao tersiar ketika Lou Fu menerbitkan sebuah artikel di Red China.  Lou Fu menyebut beberapa nama diantaranya dan yang dicap sebagai pengikut “Garis Lou Ming”. Kemudian Mao Zetan, lalu Xie Weijun yang membantu Deng melawan histeria “AB”, dan Gu Bo pengikut lama Mao. Empat sekawan itu lalu dipindahkan dari posnya. Dua orang ditinggalkan dan tewas ketika tentara merah memulai perjalanan panjang.

Deng dikirim ke Departemen Politik Umum Tentara Merah untuk diperiksa. Dan kemudian dituduh sebagai barisan petani kaya. Ia dituding memberi hati petani kelas menengah, padahal ia mengambil alih kekayaan mereka dan memberikan tanah itu pada si miskin. Dia juga berkeyakinan dalam memelihara Angkatan Bersenjata wilayah di distrik-distrik daripada mempersatukannya dalam satu komando seperti yang dituntut oleh Kaum Bolzeviks. Dan Deng mendukung strategi Mao untuk membiarkan musuh memasuki wilayah komunis tapi kemudian menyerang dan menyapunya.

Deng menulis dua atau tiga otokritik. Dia mengakui bahwa dia di bawah garis ofensif, tetapi ini tidak memuaskan para penuduhnya. “Saya tidak dapat mengatakan lebih lanjut,” kata Deng bersikeras. “Apa yang aku tulis adalah benar,” Deng  mempunyai pendukung dan tak dapat pergi lebih jauh.

Deng kemudian dialih tugaskan ke Tentara Merah sebagai sekretaris jenderal di Departemen Politik Umum yang dipimpin oleh Wang Jiaxiang. Dia memegang jabatan itu dua atau tiga bulan. Kemudian atas keinginan sendiri melepaskannya untuk bisa menjadi pekerja politik biasa. Juga atas permintaannya sendiri, ia menjadi redaktur koran tentara Red Star tetapi tidak mungkin menerbitkan Red Star selama perjalanan panjang berlangsung. Walhasil Deng tidak banyak melakukan apa-apa,  kecuali berjalan berdampingan dengan Li Yimang di Departemen Politik Umum.

Rapat di Zunyi

Deng menghadiri rapat di Zunyi Sebagai redaktur Red Star. Beberapa saat sebelum rapat di Zunyi, Deng menjadi Sekjen Komite Central atau seperti digambarkan Liu sebagai tim sentral.

Kedudukan itu kelihatannya lebih menarik dari sebelumnya, dan kehadiran Deng di Zunyi menjadi persoalan penyelidikan sejarah. Deng sendiri mengaku memang pernah di sana, tapi Jenderal Yang Shangkun, yang hadir di sana tidak ingat apakah Deng pernah di sana. Zhou Enlai Mempertanyakan ini pada awal 1970-an. Zhou mengatakan tentu saja Deng hadir.  Kemudian ia mengingat pernah melihat Deng duduk di ujung sibuk mencatat tak jelas. Apakah itu sebagai redaktur Red Star, atau karena dia sekretaris. Sayang hampir semua dokumen tertulis tentang Zunyi telah hilang.

Hanya sesaat sebelum tentara merah mencapai Gunung Bersalju pada April 1935. Mao memutuskan semua aparat pendukung harus menempati pos militer di garis depan. Deng Xiaoping memilih kelompok tentara pertama sebagai pemimpin propaganda politik, sementara itu Liu Ying mengisi posisinya sebagai sekjen sampai tentara merah mencapai Grasslands. Ketika Tentara Merah mencapai Utara Shanxi, Deng sakit keras dihajar tifus. Ia tak bisa bekerja untuk beberapa lama.

Tidak ada yang mengombang-ambingkan Deng Xiaoping ke atas dan ke bawah lebih daripada Mao Zedong. Sekali waktu misalnya, Mao sempat menggeram karena Deng dengan sengaja duduk di balik ruangan sewaktu Mao berbicara. Sebabnya, Deng mulai tuli tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Mao. Mao pernah menyatakan dengan hangat bahwa, “Deng bagaikan jarum dalam kapas. Deng tajam sekaligus lembut pikirannya bulat, dan tingkah lakunya segi empat,” kata Mao.

Komunis Menang dan Revolusi Kebudayaan

Setelah itu perang gerilya komunis melawan Kuomintang kemenangan dengan berdirinya RRC. Ketika itu, secara bersamaan muncul suatu kesadaran, tidak hanya pada Mao dan Deng. Tetapi juga pada kader-kader partai lainnya, bahwa keberhasilan yang dicapai tidak akan mungkin dapat terjadi apabila mengabaikan kenyataan-kenyataan di Cina. Dari sinilah lahir gagasan bahwa untuk melaksanakan revolusi atau pembangunan ekonomi. Siapapun tidak bisa mengabaikan kondisi-kondisi yang berlaku di Cina. Prinsip pencari kebenaran dari fakta-fakta menjadi dasar pemikiran Mao dan teori Deng.

Namun akhirnya seluruh rakyat melihat, Mao bukanlah dewa yang bisa membuktikan dirinya sebagai negarawan ulung, dan berhasil membawa rakyatnya ke sosialisme. “Dengan menceraikan dirinya dari praktek dan rakyat, Mao salah mengkondisikan bahwa kontradiksi di dalam negara sosialis akan tetap abadi,” tulis media Beijing Zhougan.

Kontradiksi yang dimaksud Mao antar kaum pekerja dengan kaum borjuis. Maka secara berturut-turut mau melancarkan pengganyangan politik dan kampanye lainnya sebagai upaya mengalahkan apa yang disebutnya “setan-setan kapitalisme”. Sebaliknya kawan seperjuangannya, Deng, berpegang teguh pada hasil Kongres ke-8 PKC tahun 1956. Kongres ini mengumumkan bahwa prinsip kontradiksi yang ada di Cina adalah antara tuntutan rakyat akan percepatan pembangunan ekonomi dan kebudayaan dengan kondisi negara yang tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi serta kebudayaan.

Dengan pertentangan itu, perpecahan diantara kamerad lama tak terhindarkan lagi. Pada 1966, Mao melancarkan Wenhua De Geming (Revolusi Besar Kebudayaan). Mau menyerang kubu yang disebut sebagai borjuis-kapitalis.

Korban-korban revolusi kebudayaan

Korban pun berjatuhan, seperti Li Shaoqi yang menjabat sebagai presiden. Dan Deng yang ketika itu menjabat sebagai Sekjen PKC. Pukulan ke arah Deng  tidak tanggung-tanggung. Revolusi kebudayaan menjatuhkannya untuk kedua kalinya, sampai ia bertekuk lutut. Bahkan putranya, Deng Pufang, sempat menjadi korban. Pengawal Merah waktu itu mendorong anaknya dari bangunan setinggi 8 meter. Ia pasrah untuk mati. Tetapi takdir menentukan lain. Putra sulung Deng ini cuma lumpuh dan harus berkursi roda seumur hidupnya.

Kembali Lagi ke Panggung Politik dan Kelompok Empat

Pada 1933 (1973-printl), Deng kembali bangkit di panggung politik Cina. Tahun 1973, Deng mengejutkan semua orang dengan kemunculannya di sebuah jamuan makan malam dengan jabatan lama: Wakil Perdana Menteri. Deng dipulihkan namanya untuk mengambil alih tugas pemerintahan Zhou Enlai yang digerogoti kanker. Deng membantu Zhou menyusun cetak biru organisasi, serta berupaya mengoreksi kesalahan revolusi besar kebudayaan.

Mao Zedong meninggal pada 1976. Si Ren Bang (Kelompok Empat), anak revolusi kebudayaan pimpinan Jiang Qing, janda Mao, kembali menyerang Deng. Pada bulan April 1976,  mereka menyingkirkan Deng dari semua jabatannya. Untuk ketiga kalinya Deng “si orang kecil” yang disebut Mao “si tuli”  karena sifat pembangkangannya, ditendang dari arena politik.

Kembali Lagi ke Panggung Politik dan Kerusuhan Tiananmen

Pada 1977, ketika Deng berusia 77 tahun, ia kembali masuk ke arena politik ibarat petinju yang tidak kenal menyerah. Dan kali ini ia menjadi juara, semua lawan politiknya dikanvaskan. Kelompok Empat diadili sebagai penjahat politik.

Kunci utama menuju pintu modernisasi dicanangkan Deng dalam Kongres ke-12 tahun 1987. Dengan tugas utama pembangunan ekonomi. Dan Deng bersiap melaksanakan suksesi dengan menyiapkan tokoh muda yang modernis dan reformis. Namun modernisasi yang dijalankan Mungkin terlalu pesat, sehingga laju keterbukaan memakan korban. Mata para pemuda Cina terbuka lebar dan menuntut demokrasi yang lebih longgar. Akibatnya, tergalanglah kekuatan untuk unjuk rasa di Tiananmen pada tanggal 4 Juni 1989.

Saat ini anda sedang membaca artikel Deng Xiaoping: Si Jarum Dalam Kapas

Akibat peristiwa Tiananmen empat tahun lalu, Hu Yaobang dan Zhao Ziyang, kedua “putra mahkota” politiknya, gagal dalam tempaan karena gagasan reformasi mereka mendahului zaman. Membuka peluang bagi mahasiswa untuk bergerak, mengancam kemapanan sistem komunis Cina.

Deng dan Hu Yaobang, salah satu kadernya. Tapi akibat peristiwa Tiananmen, skenario Deng jadi berantakan. Gagasan mereka melampaui zaman. Orang-orang konservatif memnentang mereka (DOK. MATRA, 1993)

Akhirnya tangan besi kembali diturunkan. Yang Shangkun menggerakkan Tentara Pembebasan Rakyat untuk bergerak dan melindas demonstrasi mahasiswa. Korban berjatuhan. Protes bertubi-tubi datang dari penjuru dunia. Pintu gerbang reformasi politik Cina yang sudah setengah terbuka pun menutup kembali. Skenario suksesi Deng yang mulai mendapat angin pun berantakan. Bahkan ia harus menyiapkan kader-kadernya lagi. Kader harapannya, Hu Yaobang dan Zhao Ziyang, digeser dari jabatannya di Partai Komunis Cina.

Sebenarnya, masalah pokoknya adalah pergulatan antara kubu reformis dan kubu konservatif di dunia politik Cina. Deng yang berusaha melakukan modernisasi sempat limbung sebentar karena terganjal peristiwa Tiananmen.

Menghilang dan Menyusun Kekuatan

Setelah peristiwa itu Deng melakukan konsep lama politiknya, menghilang dan menyusun kekuatan. Ia berdiam diri selama dua tahun, dan melakukan berbagai tindakan untuk menghimpun kekuatan kubu reformis. Sejak Juni 1989 hingga akhir 1990, ia menciptakan masa transisi. Ia tetap menjadi satu pemimpin berpengaruh di kelompok pemimpin “delapan sesepuh”. Tetapi sebagai kompensasi Ia harus rela terhadap tuntutan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh moderat dari Partai Komunis Cina (PKC) dan Dewan Negara, dan menerima kampanye “anti-borjuasi”.

Inilah konsekuensi dari pilihan pimpinan kolektifnya untuk Cina. Tidak seperti Mao Zedong, yang menjadi pemain tunggal.  Namun, dalam tahap ini Deng tidak langsung terpojok dalam situasi sulit. Ia berhasil menciptakan stagnasi dalam perebutan pengaruh dengan mengajukan Jiang Zemin sebagai Sekjen PKC, seorang tokoh yang tidak begitu dikenal. Resikonya, Deng tidak bisa menolak kubu konservatif untuk mempertahankan Li Peng sebagai perdana menteri. Kompromi ini, walaupun agak menekan Deng, tetapi memberi peluang untuk melakukan langkah selanjutnya.

Selama tahun 1991 Deng berjuang memajukan bidak-bidak kubunya agar tampil lebih seimbang Dalam pergulatan dengan kubu konservatif. Ia berhasil mempromosikan tokoh-tokoh moderat seperti Li Ruihuan jadi anggota komite tetap Politbiro PKC, dan Zhu Rongji Sebagai Wakil Perdana Menteri.

Langkah berikutnya lebih jauh lagi, ia melakukan penampilan langsung di depan umum sejak 1992 ini. Ia melakukan kunjungan ketiga zona ekonomi khusus di Shanghai, Zhuhai, dan Zhenzhen. Dalam kunjungan tersebut, Deng mengeluarkan pernyataan yang cukup keras dalam mendukung gelombang reformasi ekonominya. Ia mengatakan bahwa, barangsiapa yang menentang reformasi harus segera turun dari panggung politik.

Reformasi ala Deng

Gelombang reformasi pasca Tiananmen yang dipimpin langsung oleh Deng ini segera mendapat dukungan kuat dari berbagai kalangan. Dari pihak militer, Jenderal Yang Baibing -adik Yang Shangkun- dengan tegas berjanji, “Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) akan melindungi dan menemani perjalanan Sang Kaisar,” bahkan sesepuh konservatif dan lawan  politik utama Deng, Cheng Yun, juga menyatakan dukungannya terhadap upaya-upaya percepatan reformasi.

Bersama keluarga saat ulang tahun ke-60 (1964). Karir politiknya naik turun. Sebentar di atas, sebentar di bawah. Lalu muncul dengan gebrakan-gebrakan (DOK. MATRA, 1993)

Sejalan dengan langkah-langkahnya yang strategis dalam pertarungan menjelang kongres ke-14 PKC di akhir 1992, Ia juga membuktikan kesehatan fisiknya. Deng Lin; putrinya yang menjadi seniman, mengemukakan dalam pembukaan pameran di Shanghai, “Ayah saya sehat. ia berenang sekitar 50 menit sampai 60 menit dalam musim panas yang lalu.”

Baca juga : Jalan Panjang Kapitalisme Deng Xiao Ping

Pernyataan akan kondisi Deng itu terus menguatkan barisan reformasi. kongres PKC sendiri masih berjalan tetap dengan arah yang dikehendaki Deng. Bahkan setelah 319 anggota komite sentral PKC terpilih, Deng muncul di ruang sidang Renmin Da Huitang (Balai Agung Rakyat). Dipapah anak perempuannya, Deng yang mengenakan setelan berwarna abu-abu Melambaikan tangan kepada seluruh anggota delegasi partai yang mempunyai 53 juta anggota ini. “Kongres ini diselenggarakan dengan sangat baik agar terus bekerja giat”, kata Deng sambil melambaikan tangannya.

Saat ini anda sedang membaca artikel Deng Xiaoping: Si Jarum Dalam Kapas

Gemuruh tepuk tangan terus bergema di ruangan itu. Deng yang ditemani para pemimpin PKC yang baru seperti Jiang Zemin dan Li Peng, menghampiri anggota delegasi dan berjabat tangan dengan mereka. Para anggota komite sentral seperti melihat ayah mereka sendiri, berteriak, “Kamerad Xiaoping,  apa kabar!”. Lengkap sudah langkah Deng kembali memegang kendali haluan politik Cina pasca Tiananmen.

Reaksi dari luar negeri beragam. Surat kabar Inggris yang bergengsi, “The Financial Times”, memberi penghargaan kepada Deng Xiao Ping sebagai man of the Year 1992. Ini bukan gelar pertama untuknya, Majalah Time pun pernah memberi gelar yang sama. Untuk 1992, dan dinilai luar biasa karena sukses program ekonominya tercapai pada saat ia berusia 88 tahun, dengan kesehatan diragukan dan tak menduduki satupun jabatan resmi dalam pemerintahan maupun Partai.

“Pujiannya terhadap zona khusus ekonomi di Cina Selatan dan desakannya untuk mempercepat modernisasi, menyulut ledakan ekonomi. Tingkat pertumbuhan Cina sekarang sekitar 12%. Negara dengan penduduk paling banyak di dunia ini hampir mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang paling cepat,” tulis The Financial Times.

Hubungan dengan John Denver

Sesudah kongres PKC, seperti hendak mengucapkan selamat kepada Deng, John Denver, penyanyi country dari Amerika  datang ke Beijing. Konser-konser yang tadinya tidak diberi izin – karena terlalu dekat dengan pelaksanaan Kongres PKC-  tiba-tiba diberi izin. Denver yang mengenal Deng pada kunjungan Deng ke Amerika 13 tahun yang lalu, di mana Deng sempat menonton konser Denver dengan menggunakan topi koboi, menulis surat pada Deng: “Impian menjadi kenyataan, bernyanyi untuk Rakyat Cina. Saya harap anda berkesempatan untuk melihat salah satu pertunjukan saya di sini. Atau, barangkali tersedia kemungkinan saya bisa berjumpa dengan anda.”

Karena kedekatan Inilah banyak pihak yang mafhum bahwa kemungkinan pengaruh Deng juga yang menjadikan konser John Denver bisa terlaksana. Sebelumnya izinnya tidak diberikan oleh PKC dengan alasan ‘mengganggu stabilitas’.

Siasat Selanjutnya

Dalam reformasi politik, Deng masih harus bergulat dengan para sesepuh golongan konservatif. Sedang untuk reformasi ekonomi, nampaknya tidak ada rintangan berarti bagi langkah-langkahnya yang cepat untuk memakmurkan Cina. Tahun ini dalam sidang Kongres Rakyat Nasional (KRN), semacam parlemen, ekonom Rong Yiren (76) terpilih sebagai wakil presiden RRC.

Masuknya Rong Yiren

Rong dikenal dengan sebutan “ kapitalis merah” –  sebutan yang layak juga dialamatkan ke Program ekonomi Deng. ia layaknya seorang pengusaha liberal yang memantau pasar keuangan dunia melalui sebuah terminal komputer di rumahnya.  dengan dilantiknya Rong Yiren sebagai Wapres Cina, Ia merupakan satu-satunya orang di luar PKC yang sampai posisi itu.

Rong berasal dari satu keluarga terkaya di Cina sebelum berlangsungnya revolusi komunis pada 1949. Setelah Deng Xiaoping kembali ke panggung politik dan mulai melakukan reformasi ekonomi pada 1979, Rong telah diminta untuk membantu. Kaum reformasi Cina Menyebut Rong sebagai pendiri perpanjangan tangan investasi Cina di luar negeri melalui China International Trust and investment Group (CITIC).

Di tangan dingin rong, CITIC diperkirakan akan bernilai 10,5 miliar Dollar AS pada 1995 nanti. CITIC mempunyai bank-bank, serta berbagai perusahaan di Cina,  Hongkong, AS, dan Eropa.

Rong adalah salah seorang terkaya di Cina dan termasuk jutawan bila dilihat dari kacamata barat. Para pengamat berpendapat dengan memilih Rong Yiren sebagai Wapres Cina, Deng Xiaoping  mengirim pesan bahwa reformasi ekonomi gaya kapitalisnya sekarang ini merupakan bagian yang kekal dari kebijakan pemerintah.

Reformasi yang makin kuat

Bersama Jimmy Carter (Presiden AS ke-39). Ia tak hanya dihormati di negeri sendiri. Orang luar pun mengakuinya sebagai pemimpin besar. Majalah Time menobatkannya sebagai Man of The Year 1992 (DOK. MATRA, 1993)

Dalam pidato mengenai suksesinya yang memasuki tahap akhir, Deng nampaknya sudah yakin akan kuatnya posisinya. Ia dengan keras mengecam dan menutup peluang tampilnya para pemimpin komunis garis keras untuk mengganti kedudukannya. “Harus dijelaskan bahwa kelemahan-kelemahan dan kesalahan sejumlah kamerad adalah benar-benar nyata. Dan inilah kebijakan kekiri-kirian kami yang disalahkan,” katanya.

Pidatonya mengisyaratkan bahwa ia masih memprihatinkan adanya kelompok yang menentangnya. Ia tidak secara tegas menyebut nama-nama orang yang dikecam.

Deng berbeda pendapat dengan kaum konservatif mengenai tokoh revolusioner yang pantas menjadi penggantinya. Revolusioner adalah orang muda yang mendukung pembaharuan. Sementara kelompok konservatif menekankan bahwa kaum revolusioner adalah orang yang mendukung perjuangan kelas.

Deng jelas tidak terima. “Mengapa jumlah orang begitu keberatan terhadap para kamerad yang bekerja untuk tugas-tugas penting partai dengan cara bersahaja dan berani? Mengapa bukan sejumlah orang itu yang mawas diri?” kata Deng.

“Kita tidak boleh memperkiri kesalahan-kesalahan dan kekeliruan-keliruan yang muncul saat kebijakan tengah diterapkan. Tetapi kita harus secara besar hati mengakui memperbaikinya dan bekerja lebih baik,” kata Deng.

Kejar-kejaran dengan usia

Tahun ini, waktu Deng semakin sempit. Ia berada dalam ketergesaan dikejar usia. Ia ingin agar namanya tercatat dalam sejarah sebagai perintis yang berani meninggalkan prinsip-prinsip Maois, berani menentang arus, dan memperjuangkan modernisasi di Cina. Namun, tampaknya ia masih ragu-ragu dengan pilihan penerusnya.

Jago yang sekarang digemblengnya adalah ketua PKC Jiang Zemin. Namun ia tak seberani Zhao Ziyang dan Ho Yaobang. Mereka berdua berani tampil dan mengambil langkah maju yang terkadang kontroversial. Sedangkan Jiang dikenal sangat hati-hati Bahkan dalam beberapa hal cenderung oportunis. Awal tahun lalu ketika Deng melakukan perjalanan ke Cina Selatan dengan semangat modernisasi dan mengajak orang-orang yang menghalangi reformasi ekonomi, Jiang tidak mendukungnya dengan pernyataan lugas, sikapnya kelewat netral.

Namun dalam ketergesaan di akhir hayatnya, tampaknya Deng tak punya pilihan lain kecuali terus membina Jiang. Terakhir, ia melakukan gebrakan dengan mengangkat Jiang Zemin sebagai presiden RRC menggantikan Yang Shangkun, dan Qiao Shi naik mengganti Wan Li sebagai ketua Kongres Rakyat Nasional.

Saat ini anda sedang membaca artikel Deng Xiaoping: Si Jarum Dalam Kapas

Dengan di dongkelnya presiden dan ketua Kongres, terbukalah peluang untuk menciptakan kepemimpinan kolektif yang reformis. Sebenarnya pencopotan Yang Shangkun cukup mengherankan. Sebab sejak lama Ia dikenal sebagai sekutu Deng. Namun, rupanya Yang Shangkun  beserta adiknya, Yang Baibing, yang menjabat Sekretaris Komite Militer Pusat, Dianggap Deng mengelola Tentara Pembebasan Rakyat seperti sepasang “warlord”. Semuanya berdasarkan kesetiaan kepada mereka. Deng sudah lama tidak senang dengan keadaan seperti itu. Dan pembersihan pun diawali dengan pemberhentian hampir separuh dari 600-an Jenderal aktif, karena terlalu dekat dengan Yang Shangkun.

Namun, ada yang mengatakan, dengan mencampakkan Presiden Yang Shangkun beserta adiknya. Tampilnya Jiang beserta Li Peng justru akan memperbesar potensi konflik. Dan jika keributan besar terjadi, tentara kembali akan masuk politik. Di hari tuanya ini, tampaknya Deng Xiaoping sulit Mencari Pengganti sehebat dirinya. Mata dunia menanti dengan cemas kesehatan orang kecil berkarisma ini, yang bertahta di tampuk partai politik yang terbesar ini.

Terima kasih sudah membaca artikel Deng Xiaoping: Si Jarum Dalam Kapas yang diunggah di Printilan.com. Akses terus Printilan.com untuk arsip berita lama lainnya.

Printilan.com adalah situs web berisi informasi mengenai pengetahuan umum yang mungkin kamu belum tahu mengenai topik-topik seperti Pengetahuan Umum, Desa, Transportasi, Infrastruktur, Sejarah, dan Daerah. Kami juga menampilkan arsip berita-berita lama Indonesia, agar jadi jembatan wawasan bagi masa sekarang.